21/07/2008 08:38:02 YOGYA (KR) – Masyarakat di wilayah DIY dan sebagian Klaten Jawa Tengah kembali dikejutkan gempa bumi berkekuatan 5,9 Skala Richter (SR). Gempa itu terjadi Minggu (20/7) siang pukul 13.11 WIB.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Geofisika Yogyakarta pusat gempa berada di 9,0 Lintang Selatan (LS) dan 111,24 Bujur Timur (BT) (tepatnya 160 km tenggara Yogya) dengan kedalaman 10 km. Meski kekuatannya cukup besar tapi gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami (kurang dari 6 SR).
”Gempa yang terjadi pada siang kemarin sempat dirasakan oleh masyarakat yang ada di daerah Sleman, Bantul, Yogya dan sebagian Klaten. Tapi karena pusatnya ada di dalam laut sebelah Selatan Pacitan banyak masyarakat yang tidak merasakan. Untuk itu masyarakat DIY tidak perlu menyikapi gempa yang kekuatannya kebetulan sama dengan gempa 27 Mei itu secara berlebihan,” kata Kepala BMG Stasiun Geofisika Yogyakarta, Drs Jaya Murjaya MSi pada KR, Minggu (20/7).
Hal yang sama juga disampaikan Kabid Data dan Informasi BMG Yogyakarta, Tiar Prasetyo. Masyarakat diharapkan tetap tenang. Meski getaran yang dirasakan di Yogya tidak besar, namun kewaspadaan tetap harus dijaga oleh masyarakat. Karena itu pemahaman terhadap gempa harus terus ditanamkan kepada masyarakat.
Dihubungi terpisah, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK), Drs Subandriyo MSi mengemukakan, sejauh ini getaran gempa tersebut belum berpengaruh terhadap aktivitas Gunung Merapi. Meski demikian, ia yakin pengaruhnya sangat kecil. ”Jarak pusat gempa 150 km lebih dari Yogya adalah sangat jauh. Sehingga dapat dikatakan kecil kemungkinan akan mendorong aktivitas Gunung Merapi,” ujar Subandriyo.
Sejauh ini, aktivitas Gunung Merapi pada tingkatan aktif normal. Belum ada tanda-tanda adanya peningkatan aktivitas. Secara visual pun, berdasarkan pengamatan KR hingga Minggu (20/7) malam, puncak gunung api itu memang tidak menampakkan adanya tanda-tanda aktivitas vulkanik.
Menurut Jaya Murjaya, meski kekuatannya sama yaitu 5,9 SR, tapi gempa yang terjadi Minggu kemarin tidak ada kaitannya dengan gempa Yogya beberapa tahun yang lalu. Di samping pusatnya berbeda (bukan sesar Opak-Oya), gempa ini termasuk tipe tektonik yang disebabkan oleh adanya tumbukan lempeng.
Kemungkinan terjadinya gempa susulan dengan kekuatan di atas 5 SR sangat kecil. Bahkan berdasarkan data yang ada di BMG Stasiun Geofisika Yogya sampai dengan Minggu malam baru tercatat ada 1 gempa susulan dengan kekuatan 2,8 SR.
”Kalau dilihat dari laporan dan data-data yang ada di BMG gempa ini tidak berbahaya (sekitar 3 MMI). Memang sampai saat ini gempa-gempa susulan masih terus terjadi, namun karena letaknya cukup jauh tidak akan terlalu berdampak bagi DIY, apalagi sampai berpotensi menimbulkan kerusakan,” papar Jaya.
(R-5/Jon/Sto)-z
